Dalam beberapa bulan terakhir, nama Eri Pras melesat sebagai salah satu kreator yang rajin “mengacak-acak” FYP TikTok dengan celetukan khas berbahasa Jawa yang nyeleneh dan mudah diingat.
Gaya bicaranya yang santai, penuh humor, dan sedikit satir membuat potongan live maupun klip pendeknya cepat menyebar ke berbagai platform, termasuk TikTok, Instagram Reels, hingga YouTube Shorts.
Di YouTube, popularitasnya ikut terdongkrak karena keterlibatannya dalam lagu “Oplosan” bersama DC Production dan Denny Caknan, yang menempatkan namanya lebih jauh di radar penikmat musik koplo Jawa.
Ciri Khas Celetukan “Kata-kata Hari Ini Kang”
Dalam banyak live dan video pendek, Eri Pras sering melontarkan celetukan yang kemudian dikenal warganet sebagai “kata-kata hari ini, Kang”. Kalimat-kalimat ini biasanya:
- Memakai bahasa Jawa ngoko campur Indonesia.
- Mengandung rima atau permainan bunyi yang enak diucapkan.
- Menggabungkan humor, sindiran ringan, dan sedikit drama percintaan.
Salah satu contoh yang banyak dikutip media adalah kalimat “Enek roti dipangan tukang ngopi kang,” yang diangkat sebagai bagian dari kumpulan kata-kata viral Eri Pras.
Struktur kalimat yang absurd namun ritmis inilah yang membuat celetukannya mudah menjadi bahan editan meme dan konten FYP.
“Ojo Mendem Wae Kang” dan Nuansa Pesan Moral
Di antara celetukan Eri Pras, beberapa kalimat memuat pesan moral sederhana yang dibungkus dengan bahasa sehari-hari. Salah satunya adalah “Ojo mendem wae kang,” yang kurang lebih bisa dimaknai sebagai ajakan untuk tidak terus-menerus larut dalam “mabuk”.
Dalam konteks bahasa Jawa, kata “mendem” secara harfiah berarti “mabuk” karena minuman keras, namun bisa juga dipakai secara kiasan untuk menggambarkan seseorang yang terlalu larut dalam perasaan tertentu.
Dengan gaya khasnya, Eri Pras sering memadukan kata “mendem” dengan situasi percintaan, kegalauan, atau lelahnya hidup, sehingga terdengar sekaligus lucu dan relate bagi banyak penonton.
Inilah yang membuat kalimat seperti “Ojo mendem wae kang” bukan sekadar larangan literal, tapi lebih mirip teguran bercanda agar tidak berlebihan dalam menghadapi masalah.
“Lek Suroto Sekolah E Wes Lulus, Loro To Salah E Tulus”
Kalimat lain yang menjadi signature Eri Pras adalah “Lek Suroto sekolah e wes lulus, loro to salah e tulus..awawaw..terluka parah.” Permainan kata di sini bertumpu pada rima “lulus – tulus” dan kata “loro” yang dalam bahasa Jawa bisa berarti “dua” sekaligus “sakit”.
Celetukan ini muncul dalam berbagai video pendek dan juga telah banyak ditirukan ulang di Instagram maupun platform lain.
Secara makna, kalimat tersebut tidak harus dimaknai secara literal, melainkan sebagai permainan bunyi yang diakhiri dengan nuansa drama patah hati (“tulus, terluka parah”) sehingga menimbulkan kesan humor tragis.
Pola seperti ini – memulai dengan frasa ringan, lalu ditutup dengan nuansa galau – menjadi template yang sering dipakai Eri Pras dalam banyak celetukannya.
Komentar
Posting Komentar